KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

henirahmawatiKESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
(Tinjauan : Manajemen Seks)
By : Heni Rahmawati,  S.PSi

Reproduksi Remaja yang Sehat ?
Kenapa saya beri judul demikian ? Baik, mari kita lihat tema awal : Kesehatan Reproduksi Remaja. Kira-kira apakah yang dimaksud ? Ada tiga kata kunci, kata kunci utama adalah Reproduksi, yang berasal dari kata Re : kembali dan produksi : menghasilkan. Menghasilkan apa ? Boleh dibilang, konteksnya di sini tentu saja menghasilkan anak atau keturunan. Batasannya seperti itu. Kata kunci selanjutnya adalah Kesehatan (berasal dari kata sehat) dan Remaja (artinya konteks bahasan di sini pada remaja). Nah, apakah remaja memang sudah sanggup ber-reproduksi ? Jawabannya lagi-lagi : Tentu saja ! Kenapa ? Ya, karena dalam ilmu tentang reproduksi, ketika seseorang sudah mengalami menarche (haid pertama) pada perempuan atau pollutio (mimpi basah) pada laki-laki, maka di saat itulah organ reproduksinya sudah (mulai) bisa berfungsi. Ingat, setiap orang sudah memiliki organ-organ itu sejak bayinya, namun rata-rata mulai berfungsi menginjak usia remajanya yaitu pada masa pubertas (rata-rata usia 10-15 th). Nah, nah, nah…kembali ke pertanyaan semula, jadi hati-hati para remaja. Anda sudah bisa hamil (buat yang cewek) dan menghamili (buat yang cowok). Kalau Anda memang sudah merasa sangat siap dan berkehendak untuk punya anak, Anda bisa saja menikah. Itu akan AMAN ! Dan jika Anda sudah pernah hamil, menghamili atau punya anak, maka Anda pun pasti bisa melakukannya untuk kedua kali dan seterusnya. Di sinilah letak fungsi reproduksi yang dimaksud. Kecuali ada masalah atau kasus-kasus khusus yang bisa menghilangkan atau menghambat fungsi tersebut.

Selanjutnya kata terpenting dalam tema ini adalah Kesehatan. Artinya kita ingin membahas sesuatu yang dianggap sehat (begitu ya ?) -dalam hal ini- dalam ber-reproduksi. Bagaimanakah gerangan reproduksi yang sehat, dan khususnya bagi remaja yang rata-rata (baca : sebagian besar) belum menikah ? (ehm..ehm..). OK, secara medis mungkin sudah dijelaskan bagaimana proses reproduksi terjadi (semua sudah paham bukan?). Nah, sudah pada punya kesimpulan, tentang reproduksi yang sehat ?

OK, mari kita buat analogi begini. Bagaimana seseorang dikatakan sehat ? Sehat itu kan menggambarkan suatu kondisi yang ‘tidak ada masalah’ (betul ?). Saat Anda mengatakan saya sedang tidak sehat, bukankah berarti saat itu Anda sedang ada masalah dengan fisik/badan Anda ? Karena apa ? Misalnya karena sakit tenggorok, bukankah berarti saat itu organ tubuh Anda yang bernama tenggorokan sedang terganggu, sakit atau bermasalah ? Begitu pula dengan masalah reproduksi. Reproduksi yang sehat salah satunya tentu saja adalah tidak ada masalah dengan organ reproduksinya, pun dengan proses dijalani oleh pemilik (baca : orang yang memilikinya). Jika Allah sudah menciptakan organ-organ dengan segenap fungsinya, lalu cara/proses penggunaannya pun tidak sesuai dengan kaidah/aturan yang diciptakannya, maka dapatkah dikatakan reproduksi yang sehat ? Karena itulah, berbagai jenis perilaku seksual yang menyimpang yang makin bermacam-macam sekarang ini (yang sangat bisa dibilang mrpk salah satu jenis kehidupan reproduksi yang tidak sehat) akhirnya juga membawa efek tidak sehat, al : munculnya penyakit menular seksual (PMS) yang sangat berbahaya, termasuk HIV/AIDS. Di samping itu munculnya berbagai teknologi pembentukan manusia dengan berbagai tekniknya, dari bayi tabung sampai kloning juga masih menjadi pro kontra di kalangan para agamawan khususnya. Berbagai pihak yang kontra mendasarkan diri pada asumsi bahwa berbagai teknik tersebut tidak sewajarnya alias tidak alamiah, jadi menentang kodrat, so haram ! Tapi ada pula yang membolehkannya dengan beberapa syarat keadaan tertentu.

Sekarang kembali ke perilaku seksual yang sehat. Saya pikir semua sepakat jika hubungan seksual (ini kan nama lain dari aktivitas/perilaku reproduksi) yang jelas aman adalah yang dilakukan oleh pasangan (suami istri) yang sudah menikah (biarpun belum tentu sehat, tergantung perilaku yang dibangun nanti). Aman, karena jelas halal dan sah secara hukum maupun agama. Namun kiranya yang lebih penting dibahas adalah bagaimana manajemen organ reproduksi pada remaja (yang sebetulnya sudah butuh penyaluran) tapi kebetulan belum menikah (otomatis belum ada penyaluran yang sah dan aman itu donk), dengan kata lain manajemen perilaku seksual (salah nggak ya ?) pada remaja.
Ternyata di atas itu cuma prolog.

***

Sekarang, tentang Manajemen Perilaku Seksual pada Remaja…
Berlanjut ke tema yang ingin saya fokuskan. Manajemen perilaku seksual. Akan sangat panjang bahasannya saya kira. Ya, karena bahasan tentang persoalan produksi-reproduksi ini memang sangat luas cakupannya. Setiap bulan perempuan yang sudah baligh akan memproduksi hormon estrogen, inilah hormon yang mempengaruhi perilaku seksual. Setiap bulan pula perempuan mengalami ovulasi, di mana ia mengeluarkan sel telur yang siap dibuahi (artinya kalau ada sel sperma yang masuk dan membuahinya, tentu saja akibatnya dapat terjadi kehamilan). Pada laki-laki hormon serupa biasa disebut hormon progesteron. Nah, apa yang biasanya terjadi pada laki-laki dan perempuan (para remaja sajalah) yang ‘sebenarnya’ sudah butuh penyaluran (baca : pemenuhan) kebutuhan seksual, sementara belum ada penyalurannya ?
Dalam kajian psikologi remaja dikatakan bahwa masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Karena itulah, pada masa ini dikatakan ada tugas-tugas perkembangan remaja yang di antaranya adalah mempersiapkan diri dalam menuju kehidupan berumah tangga, termasuk di sini dalam hal psikoseksual. Berdasarkan asumsi tersebut, pacaran dan kencan dianggap wajar dalam kacamata psikologi sebagai salah satu pemenuhan tugas perkembangan itu. Dengan kata lain, perilaku pacaran yang tidak sehat di kelompok masyarakat tertentu dianggap wajar sebagai ajang ‘belajar’ mengekspresikan kasih sayang termasuk di dalamnya penyaluran dorongan seksual yang belum boleh dilakukan selama belum adanya ikatan perkawinan. Tentu saja tidak semua masyarakat menerima begitu saja ‘penghalalan’ perilaku pacaran ini. Ada juga sebagian masyarakat yang membolehkan perilaku seksual tertentu dalam pacaran dengan batas-batas tertentu, misal : asal nggak sampai buka-bukaan apalagi melakukan senggama (HUS). Tapi sebetulnya apa sih batasan perilaku seksual itu ?
Sebenarnya perilaku yang muncul karena dorongan seksual, misal saja berusaha menarik perhatian lawan jenis (berdandan, bersikap genit, merayu), itu sudah termasuk perilaku seksual. Itu hal yang alamiah. Lebih meningkat lagi jika sudah sampai tahap menyentuh (touching), apalagi KNPI (Kissing, Necking, Petting, Intercouse). Pihak-pihak tertentu memberikan pendidikan seks antara lain dengan memberitahukan jenis-jenis perilaku seksual yang mungkin dilakukan orang dalam berpacaran beserta resiko-resikonya secara medis, psikologis maupun sosial. Masalah pilihan, kembali kepada si pelaku (remaja itu sendiri). Sehatkah hal ini untuk dilakukan?
Masalah sehat atau tidak sehat suatu perilaku (seksual), lagi-lagi jawabnya akan sangat tergantung pada cara pandang yang dipakai dan oleh kelompok masyarakat yang mana. Masyarakat barat dengan masyarakat timur (katanya…) tentu saja akan beda cara pandangnya, demikian juga dengan kelompok agamis dan kelompok sekuler tentu beda dalam menanggapi kasus-kasus seks di luar nikah misalnya. Walaupun terbukti sekarang ini pun hampir tak ada bedanya. Apalagi sekedar pacaran biasa, berbagai praktek perilaku seks yang dulu dianggap menyimpang (secara psikologi maupun sosial) dan dikutuk habis-habisan (oleh kalangan masyarakat maupun agamawan pun sekarang ini sudah dianggap lumrah. Dari onani (masturbasi), homoseksual/lesbianisme, oral seks, sodomi dan berbagai jenis perilaku lain dengan berbagai istilahnya. Padahal Allah sendiri sudah banyak memberi peringatan sejak zaman dahulu (seperti kasus kaum Nabi Luth yang bahkan diabadikan dalam Al Qur’an), sampai sekarang dengan semakin menjamurnya PMS dengan berbagai jenisnya yang sebagian besar masih sulit diobati. Berbagai teknik perilaku seksual saat ini pun sudah terlampau bebas untuk dipelajari dari media-media televisi, majalah, internet, film/VCD dsb. Siapapun nyaris tak terkontrol menikmatinya, baik orang tua, pelajar mahasiswa maupun yang masih di bawah umur. Akankan kita mengikuti arus zaman atau berupaya berpegang teguh dengan tuntunan Allah, sekaligus demi menghindari bahaya dunia maupun kelak di akhirat ? Jawabannya kembali pada diri kita masing-masing. Tanyakanlah !

Yogya, 22 maret 2003

Nah, sekarang…kalau Manajemen Hasrat Seks gimana ?

5 comments to KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

  • aancs12

    mbak,disini saya tidak memberi masukan tapi saya mau minta materi materi tentang kesehatan reproduksi remaja,karna saya ingin tahu lebih dalam teneang itu.terima kasih.

  • Mengembalikan Jati Diri Bangsa

    :) Saya menyukai postingan ini. Sangat inspiratif. Salam kenal yah :D

  • sahelta

    m,bak boleh gak kmi minta hubungan kesehatan dan agama pada remaja

  • helmy

    Assalamkm
    mbak, saya mhs S1 keperawatan yG dlm ms pembuatan Skripsi, mau tanya:
    ada mater yG berhubungan dgn “faktor2 yG mempengaruhi Usia Menarche”??
    klo ada, blh minta mbak??
    tlg kirim ke
    syukron
    Wassalamkm

  • widhi eko

    wahhh…. nice info bos. article ini yang ane cari :)
    terima kasih infonya. :)
    salam kenal juga ya. kalo berkenan kita tukeran link yuk :)

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Spam Protection by WP-SpamFree